Disnaker Pangkalpinang Bekali Penyandang Disabilitas dengan Keterampilan Barista, Siapkan Penempatan ke Dunia Kerja

Pangkalpinang, IrroNews.com – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pangkalpinang terus mendorong peningkatan kompetensi penyandang disabilitas melalui pelatihan barista yang digelar bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung. Program ini diharapkan membuka peluang kerja sekaligus menumbuhkan kemandirian ekonomi bagi para peserta.
Kepala Bidang Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Pelatihan, dan Produktivitas Disnaker Kota Pangkalpinang, Joao Alberto, mengatakan pelatihan tersebut diikuti 15 peserta yang seluruhnya merupakan penyandang disabilitas ber-KTP Kota Pangkalpinang.
“Pesertanya 15 orang. Dari SLB Negeri ada sembilan orang, dari SLB YPAC ada enam orang. Jadi total 15 orang dan semuanya khusus KTP Kota Pangkalpinang,” kata Joao, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, pelatihan bertujuan membekali peserta dengan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.
“Tujuan pelatihan ini untuk memberikan pelatihan kepada anak-anak disabilitas agar mereka bisa berusaha dan bisa mandiri,” ujarnya.
Saat ini, peserta telah memasuki tahap praktik meracik kopi. Mereka mempelajari pengenalan alat, teknik peracikan, takaran bahan, hingga cara memasang dan membongkar peralatan kopi setelah sebelumnya memperoleh materi teori dari instruktur.
Joao mengakui proses pembelajaran memiliki tantangan tersendiri karena setiap peserta memiliki kebutuhan yang berbeda. Untuk itu, pelatihan didampingi tutor yang membantu proses komunikasi, terutama bagi peserta yang membutuhkan pendampingan khusus.
“Ada disabilitas yang memang harus dibantu komunikasinya, sehingga ada tutor yang memberikan kode-kode agar materi dapat dipahami,” jelasnya.
Setelah pelatihan selesai, Disnaker berencana menjembatani peserta dengan dunia usaha melalui penempatan di sejumlah kedai kopi dan kafe di Kota Pangkalpinang.
“Rencananya setelah pelatihan mereka akan ditempatkan di tempat-tempat usaha atau kafe. Kalau sudah mulai bisa, ke depannya mereka juga bisa membuka usaha sendiri,” katanya.

Salah seorang peserta, Vigoyan Pratama (22), penyandang disabilitas intelektual, mengaku mengikuti pelatihan tersebut untuk membuka peluang kerja baru. Sebelumnya, ia pernah bekerja di bagian kitchen dan kini ingin mencoba profesi sebagai barista.
“Saya sebelumnya bukan barista. Pernah kerja di bagian kitchen, terus saya ingin coba ikut pelatihan barista, siapa tahu ada jalannya untuk ambil pekerjaan lain,” ujar Vigoyan.
Selama mengikuti pelatihan, ia telah mempelajari cara membuat latte dan mengenal berbagai peralatan kopi. Menurutnya, proses belajar berlangsung nyaman dan membuatnya semakin yakin untuk menekuni profesi tersebut.
“Sejauh ini baru belajar bikin latte sama menghafal alat kopi. Syukurlah nyaman ikut pelatihannya,” katanya.
Vigoyan berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat membantunya bekerja di sebuah kafe atau coffee shop setelah program berakhir.
“Mudah-mudahan nanti bisa kerja di kafe atau coffee shop,” tuturnya.
Penulis: Iriyanto
Editor: Gladys





